Tampilkan postingan dengan label Internet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Internet. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Oktober 2007

Coming Next, Mobile Firefox

Cianjur TECHNO (16/10) Mozilla akan menelurkan mobile browser versi baru yang memungkinkan para pengguna Firefox browser dapat menggunakannya dalam sebuah telepon genggam.

Menurut PC World, Sabtu (13/10/2007), Mozilla saat ini telah menyewa jasa dua developer untuk mengimplementasikan proyek pengadaan Mobile Firefox dalam kurun waktu satu sampai dua tahun ke depan. Semangat Mozilla didasari oleh antusiasme pengguna perangkat mobile saat iPhone diluncurkan.

"Minat pengguna untuk mendapatkan pengalaman mobile browsing pada perangkat mobile sangat kentara, apalagi saat mereka berbondong-bondong menanti iPhone," ujar Vice President of Engineering Mozilla, Mike Schroepfer.

Nantinya perangkat ini akan dikembangkan melalui Mozilla2, versi kedua dari platform Firefox yang akan dilengkapi dengan software mobile devices. Mozilla diprediksi akan mendapatkan persaingan ketat dengan Microsoft dan Apple yang memiliki aplikasi mobile browser yang terintegrasi pada sistem operasi mereka sendiri.

Mozilla juga akan melibatkan beberapa perusahaan lain di antaranya Arm Ltd., dan MontaVista Software yang sedang mengembangkan platform Linux Open Source untuk sebuah perangkat yang lebih besar dari ponsel tapi lebih kecil dari laptop. Bahkan Mozilla telah menjalin kerja sama dengan Nokia yang menempatkan mobile browser tersebut pada perangkat N800.

Minggu, 14 Oktober 2007

VAS 2.0: Layanan Bernilai Tambah Berbasis Web 2.0

Bobby kepikiran untuk mengajak Cindy menonton konser Black Eyed Peas nanti malam. Segera diraihnya ponsel untuk melancarkan ajakan mautnya kepada sahabatnya yang moody ini. Moody? Istilah ini membuat benak Bobby tiba-tiba terlintas ide untuk memeriksa mood Cindy hari ini terlebih dahulu.

Melalui ponselnya, cowok berkepala plontos ini mengakses sebuah situs yang isinya adalah gudang emoticon (ikon yang menunjukkan emosi) atau avatar dari para member-nya. Dia tahu, Cindy adalah salah seorang anggota layanan tersebut, sama dengan dirinya. Begitu login ke situs, Bobby melakukan search nama Cindy. Segera muncul nickname cewek kutu buku ini, berikut emoticon yang menunjukkan bahwa dirinya sedang stress.


Sebagai sahabat bertahun-tahun, Bobby tahu bahwa nonton konser bukan pengobat stress yang mujarab bagi Cindy. Maka di ponselnya, Bobby mengetik SMS singkat sekali: “Yuks, gw temenin blanja ke mal manapun yg loe mau”. Beberapa detik kemudian di kamar Cindy terdengar teriakan “Yuhuuu!!”.


Kemudian, tidak sampai hitungan menit, emoticon Cindy di situs tersebut sudah berubah menjadi wajah yang tersenyum lebar, berikut tulisan: “Horee, ada juga org yg ngertiin gw!”.



Proklamasi Batin


Ilustrasi tersebut akan segera menjadi kenyataan sehari-hari. Orang ingin emosinya diketahui orang lain, apalagi jika sedang bahagia. Tak heran jika fitur status di aplikasi ngobrol seperti Yahoo! Messenger banyak digunakan orang untuk memproklamasikan situasi batinnya saat itu.


Dengan peranti komunikasi, khususnya Internet, “panggung” untuk mengaktualisasikan diri makin terbuka, “audiens” yang memiliki akses untuk menonton performance kita juga makin luas, tak dibatasi jarak. Itulah mengapa situs layanan-layanan yang memungkinkan orang membina jaringan sosial dan mengisinya dengan percikan karya dan pemikiran pribadi menjadi situs yang laris. Kecenderungan itulah yang dirangkum dalam platform Web 2.0 yang mulai hot dibicarakan sejak tahun 2005.


Secara gampang, Web 2.0 adalah layanan Internet generasi kedua yang memberikan layanan-layanan yang memungkinkan penggunanya berkolaborasi dan berbagi informasi dan pengalaman. Dengan demikian, isi atau muatan situs tersebut adalah user generated content, konten yang diciptakan oleh pengguna sendiri. Situs-situs paling ramai dikunjungi orang saat ini adalah situs yang berbasis Web 2.0, seperti: Friendster, Youtube, Wikipedia, Flickr, dan lain-lain.


Dari fenomena Web 2.0 tersebut bisa disarikan beberapa kecenderungan yang kemudian lengket menjadi karakteristiknya, yaitu (Hogg, 2005):



  • Fokus utamanya terletak pada konten yang diciptakan oleh pengguna (user generated content) dan layanan timbal balik bagi penciptaan, pengelolaan, update, dan sharing secara kolaboratif
  • Platform Web 2.0 juga memiliki ciri prosedur penginian (update) otomatis atas konten yang dimasukkan pengguna dan hal ini menciptakan kondisi informasi dan pengetahuan yang selalu baru, hasil kolaborasi bersama para penggunanya
  • Layanan pembangunan kepercayaan melalui rating, voting, dan sejenisnya, yang membentuk layanan “intelijen” kolektif

Dalam definisi Hogg yang agak filosofis, Web 2.0 adalah “falsafah dalam memaksimalkan pengetahuan bersama dan menambahkan nilai untuk semua pengguna yang berpartisipasi melalui sharing yang terlembaga dan dinamis, serta penciptaan konten oleh pengguna”.



Ponsel Menohok PC


Ponsel-ponsel yang ada di pasar hari ini sudah banyak yang bisa bertingkah bak komputer. Termasuk dalam mengakses Internet. Bahkan dalam beberapa hal, ponsel lebih berdaya untuk menghadirkan Internet di hadapan kita. Beberapa kecenderungan yang bisa dicatat adalah seperti:


Pertama, ponsel dan jaringan yang memasok datanya memungkinkan Internet diakses secara lebih mobile. Tidak peduli ada di tengah kota, dari pinggir hutan di Kalimantan, atau sedang dalam perjalanan darat yang ngebut. Internet hadir di sepanjang sinyal seluler operator menjangkaunya.


Kedua, harga ponsel yang memiliki kapabilitas Internet melalui teknologi GPRS (2,5G), EDGE (2,75G), WCDMA (3G), dan HSDPA (3,5G) makin terjangkau, bahkan lebih murah dari seperangkat komputer. Populasinya di pasar juga jauh melampaui populasi komputer, apalagi komputer yang terkoneksi ke Internet.


Ketiga, layanan data yang diusung operator makin murah ditingkahi dengan kecepatan yang makin tinggi. Dalam soal lebar pita akses malah seluler lebih unggul karena menawarkan lebih banyak pilihan teknologi nirkabel pita lebar berkecepatan tinggi (Broadband Wireless Access, BWA).


Keempat, kemampuan hardware dan software ponsel sudah maju dan memungkinkan “memindahkan” apa yang ada di PC alias komputer ke dalam handset. Peranti lunak tulang punggung Internet seperti browser, e-mail client, instant messaging, hadir di ponsel dengan “perwira”, mengawal seliweran data dan informasi seluas dunia.


Intinya, ponsel lebih luwes dan seksi untuk komunikasi data alias mengakses Internet. Konsekuensinya, ponsel sudah dan juga akan segera secara lebih marak menjadi peranti Web 2.0 yang paling luwes dan seksi. Dalam aras ini, ponsel sekadar menjadi kepanjangan tangan saja dari apa yang berlangsung di Internet. Dengan kemampuan dasar akses Internet, ponsel dibiarkan menjadi peranti teknologi informasi secara apa adanya. Ada aras lain di mana ponsel memainkan peran sentral. Seperti apa perannya?


Bagaimanapun, peranti yang personal seperti ponsel (kenyataannya mendahului sebagai peranti yang lebih personal daripada Personal Computer alias PC) memiliki karakteristik dan khittah sendiri yang berbeda dengan komputer. Apalagi karena jumlahnya yang lebih massif dibanding komputer, sudah selayaknya ponsel justru dikedepankan sebagai peranti untuk membuat layanan social networking dalam platform Web 2.0. Saatnya berpaling ke ponsel yang diintegrasikan dengan layanan-layanan Web 2.0 murni untuknya. Saatnya untuk memiliki sendiri platform Web 2.0 khusus untuk peranti mobile. Orang-orang menyebutnya Mobile Web 2.0 atau Mobile 2.0 saja.


Dalam “My Mobile 2.0 Manifesto”, Fabricio Capobianco, menegaskan beda antara Web 2.0 dan Mobile 2.0. Dalam poin pertama manifesto tersebut dia menyatakan bahwa Mobile 2.0 bukanlah sekadar versi mobile dari Web 2.0. Ini kesalahan yang sering dilakukan pada masa lalu, jangan sampai terulang lagi. WAP gagal karena menggunakan paradigma hypertext (yang membutuhkan mouse dan klik). “Plis deh”, ponsel tidak memiliki mouse. Jadi, lupakan Web. Mari kembangkan aplikasi yang tertanam dalam ponsel, yang aktif begitu ponsel kita hidupkan, yang menyimpan data secara lokal, yang menerima pesan secara push seperti SMS.




VAS 2.0


Selama ini operator seluler selalu dalam pencarian untuk melahirkan konten-konten yang “killer” agar dapat mendulang revenue dari layanan bernilai tambah (Value Added Services, VAS). Dengan tren multimedia dan broadband yang diusung oleh ponsel-ponsel baru, apakah Mobile 2.0 juga akan menjadi VAS yang paling efektif dan bermanfaat bagi pengguna?


Harus dipahami bahwa bibit-bibit jejaring sosial alias social networking melalui ponsel sudah lahir dan digunakan masyarakat saat ini juga. Ketika peranti mobile sekadar berfungsi sebagai kepanjangan tangan Internet (dan Web 2.0) seperti saat ini, sudah banyak pengguna yang mengakses situs-situs Web 2.0 seperti Googlemaps, Flickr, Blogspot, MySpace, Youtube, dan lain-lain, dengan lancar. Artinya, sudah jamak pengguna peranti mobile yang mencicipi Web 2.0. Artinya pula, sudah tak terhitung revenue yang ditangguk dari operator dari lalu-lalang data jejaring sosial itu.


Setelah era Web 2.0, era Mobile 2.0 sejati juga bukannya masih di angan-angan. Setelah mengawali dengan kerjasama dengan layanan-layanan Web 2.0, kini perusahaan besar itu sudah mengumumkan sebuah gagasan besar: Ovi. Ovi yang diambil dari bahasa Finlandia yang berarti “pintu”, adalah sebuah platform layanan Web yang merangkum layanan-layanan Web 2.0 populer seperti MySpace, Flickr, YouTube, LinkedIn, dan Facebook. Semua itu akan ditanamkan pada berbagai handset Nokia Series 60.


Vendor peranti mobile sudah menangkap masa depan dengan potensi peluangnya. Pihak-pihak lain juga pasti sudah berancang-ancang untuk mengeruk emas dari layanan berbasis Web 2.0. Saatnya operator juga berpikir dalam kerangka yang sama, yang jika mengikuti nomenklatur populer mungkin boleh disebut sebagai VAS 2.0.


Dalam VAS 2.0, operator seluler bisa memilih perannya. Apakah akah berdiri sebagai sekadar pipa penyalur traffic konten, apakah memilih sebagai partner dari pihak lain yang sudah menyediakan konten dan layanan jejaring sosial, atau sebagai perintis yang merancang layanan solusi dan menentukan peran pihak lain. Tentu saja peran menjadi tuan rumah dan penggagas VAS 2.0 adalah pilihan yang paling pas untuk operator. Nokia dengan Ovi adalah contoh sebuah perusahaan peranti keras yang memahami ke mana angin bertiup, dan bergegas menyongsong abad komunitas digital dengan menjadi salah satu tuan rumahnya. (Ketika Microsoft mengandalkan Windows alias jendela, Nokia hadir dengan Ovi alias pintu, yang tentu saja lebih lebar dan “lebih legal” untuk dimasuki.)


Menurut perkiraan The Mobile World, pada akhir tahun 2007 ini akan terdapat 3,25 milyar pelanggan seluler di dunia, atau lebih dari separuh jumlah penduduk planet ini. Dibanding posisi akhir tahun 2006, maka rata-rata peningkatan jumlah pelanggan adalah lebih dari 1000 pelanggan per menit! Indonesia sendiri diperkirakan akan memiliki 80 juta pelanggan seluler pada akhir tahun ini.


Orang menyebut generasi muda sekarang ini sebagai Generation C (Community Generation) alias generasi yang “doyan” berkomunitas. Namun agak berbeda dengan cara berkomunitas gaya lama yang mementingkan kehadiran fisik, Generation C mengandalkan peranti-peranti mobile yang memiliki kapabilitas komunikasi. Generasi inilah yang akan menjadi pasar utama VAS 2.0.


Yang perlu diingatkan, agar tidak menimbulkan apriori, adalah bahwa nomenklatur seperti Web 2.0, Mobile 2.0, VAS 2.0, dan sebagainya, sebenarnya adalah sebuah konseptualisasi dari gejala. Kegiatannya sendiri sudah faktual terjadi di sekitar kita secara sporadis. Sekarang, tinggal kita tunggu operator mana yang akan tampil sebagai pelopor yang menangkap peluang sejarah ini dan menyajikan layanan VAS 2.0 kepada pelanggan secara menarik

Situs Jaringan Sosial yang Mendulang Untung

Internet tidak mengenal batas negara dan perbedaan zona waktu. Popularitasnya telah mengubah cara kita bersosialisasi satu sama lain. Sekarang, komunikasi bisa dilakukan dari depan komputer—dengan siapa saja, dari mana saja, dan kapan saja.

Kini, internet makin menjadi tren dengan hadirnya web 2.0, model internet yang memungkinkan orang membuat kontennya sendiri lalu membaginya dengan orang lain. MySpace, Bebo, dan Friendster hanya tiga dari sekian banyak contoh situs sukses yang menerapkan prinsip web 2.0.


Situs-situs sukses tersebut melengkapi diri dengan perangkat yang memudahkan anggotannya untuk memposting apa saja—teks, foto, musik, dan video—di akun mereka. Artinya, mereka tidak sekadar menjual jasa jaringan sosial (social networking), tapi juga menciptakan tren online baru.


Sukses karena Musik


Situs web 2.0 yang kini dianggap paling sukses adalah MySpace. Lahir pada tahun 2003, situs ini menjadi populer karena adanya fitur musik di sana. Beberapa artis pendatang baru, seperti Lily Allen dan Arctic Monkeys contohnya, bahkan memulai kariernya di dunia hiburan dari situs ini. Jadi, jangan heran jika kini banyak penyanyi atau band baru yang getol memromosikan diri di berbagai situs jaringan sosial.


Jeli melihat peluang, Rupert Murdoch, si empunya News Corp., kemudian membeli MySpace dengan nilai 580 juta USD.


Berkaca pada kesuksesan MySpace, Bebo ikut-ikutan menambah fitur musik di situsnya. Dalam waktu enam minggu saja sejak dirilis, ada sekitar 100 ribu band yang mendaftarkan diri di situs tersebut. Selain musik, fitur video juga makin menjadi tren.


Playboy dan Cisco juga Punya


Yang terjadi pada MySpace juga terjadi pada beberapa situs lain yang sejenis. Contohnya adalah situs jaringan sosial Club Penguin yang dibeli Walt Disney, Orkut yang dibeli oleh Google, dan situs Shelfari yang dibeli oleh Amazon. Tahun lalu, Yahoo sempat menawar Facebook senilai 1 milyar USD, tapi ditolak oleh pendiri sekaligus CEO-nya, Mark Zuckerberg.


Dari segi revenue, situs jaringan sosial memang luar biasa menghasilkan. Ning misalnya, layanan online yang mempersilakan penggunanya membuat konten sendiri secara gratis, telah berhasil mengumpulkan 40 juta USD. Salah satu pelopornya adalah Mac Andreessen, yang tak lain adalah pendiri Netscape.


Senator Barack Obama yang pernah bersekolah di Indonesia juga punya situs web 2.0 sendiri, yang dibuat untuk kampanye presidennya. Namanya My.BarackObama.com. Playboy pun tertarik pada bisnis ini. Mereka bahkan telah mengemukakan rencananya merilis jaringan sosial bertajuk Playboy U bagi mahasiswa berumur 18 tahun ke atas. Fitur-fiturnya dikabarkan idem dengan Facebook.


Tak hanya mereka, ternyata Cisco juga berminat terjun ke bisnis situs jaringan sosial. Rencananya, mereka bakal membeli Tribe.net untuk menyatukan klien-klien korporatnya secara online.


Bisa Transfer Profil Antar Situs


Karena makin banyaknya situs jaringan sosial di luar sana, ada tantangan tersendiri bagi para pemain di industri ini—bagaimana caranya membuat pengguna mau bergabung dengan situs mereka yang anggotanya masih sedikit. Sekalipun si empunya situs sudah cukup beken, belum tentu mereka bisa langsung sukses. Nike misalnya, yang situs komunitas bola Joga.com-nya didesain oleh Google, kurang sukses menarik pengunjung.


Tantangan lainnya adalah bagaimana membujuk pengguna yang sudah bergabung dengan situs lain untuk mengakses situs mereka, untuk bergabung dengan komunitas online yang baru. Nah, untuk mengatasi masalah ini, beberapa firma kemudian membuat standar yang disebut OpenID yang memungkinkan pengunjung mentransfer informasi profilnya antarsitus jaringan sosial. Pasalnya, salah satu alasan calon pengguna malas bergabung dengan situs baru adalah karena mereka malas mengisi ulang data-datanya.



Situs Jaringan Sosial Lokal


Bagaimana dengan situs lokal? Di Indonesia, tidak sedikit situs web 2.0 yang memiliki anggotanya cukup banyak. Sebut saja FUPEI, Temanster, dan Sohib.


FUPEI bisa dibilang sebagai yang paling populer. Singkatan dari Friends Uniting Program Especially Indonesian, FUPEI dirikan bulan Mei 2004 oleh Sanny Gaddafi, seorang alumni Universitas Bina Nusantara. Lahirnya dipicu oleh popularitas Friendster pada tahun 2004.


Pemilik akun FUPEI biasa disebut Fupeis. Anggotanya tidak hanya datang dari Indonesia, tapi juga dari mancanegara seperti Jerman, Belanda, Inggris, dan Malaysia. Fasilitas yang disediakan cukup komplet, seperti album foto, pemutar musik dan video, kartu elektronik, game flash, dan fasilitas chatting.

WiMAX untuk Ngebut di Jalur Broadband

Berbagai kekurangan layanan internet yang ada sekarang ini, mau tidak mau membuat kita berharap banyak pada teknologi seperti WiMAX yang menawarkan kecepatan akses yang tinggi, plus jangkauan yang luas. Benarkah WiMAX solusi akses internet paling ideal?

Pada perhelatan Intel Developer Forum yang digelar di Beijing, bulan Mei lalu, Intel mengungkapkan niatnya untuk menambah fitur WiMAX di notebook mulai tahun 2008 nanti, bersamaan dengan rilis prosesor Montevina berikut chip Penryn yang mendukung aplikasi video high-definition.

Jadi, selain dilengkapi dengan fasilitas Wi-Fi yang sudah lazim dipasang, notebook baru berbasis Montevina juga akan diberi opsi fitur WiMAX. Tak hanya itu, untuk Intel juga siap menggandeng Clearwire (www.clearwire.com) sebagai penyedia layanan internet broadband nirkabelnya.


Intel memprediksi, tahun depan teknologi broadband akan mampu menjangkau lebih dari 100 juta konsumen di Amerika Serikat. Angka tersebut terbilang fenomenal, apalagi jika ditambah dengan hasil studi Visant Strategies yang menyimpulkan bahwa nilai jaringan WiMAX bisa mencapai 1 milyar USD pada tahun 2008 nanti.


Solusi Broadband Ideal


WiMAX (Worldwide Interoperability for Microwave Access) atau IEEE 802.16 memang menjanjikan solusi layanan broadband berkecepatan tinggi yang sangat ideal. Selama ini, banyak orang mengakses internet menggunakan akses dial-up, koneksi DSL (digital subscriber line) atau kabel modem, atau melalui jaringan Wi-Fi (memakai router Wi-Fi yang dipasang di rumah atau hotspot di berbagai lokasi strategis). Tapi semua layanan tersebut kurang memuaskan karena biayanya yang tergolong mahal dan ketidakmampuannya menjangkau area yang luas.


Nah, teknologi ciamik yang dibuat oleh WiMAX Forum pada tahun 2001 ini dianggap ideal karena jaringannya nirkabel, sehingga biaya infrastrukturnya lebih murah ketimbang DSL atau kabel modem. Selain itu, jangkauan yang sangat luas bisa dengan mudah merangkul area pinggiran kota atau pedesaan. Jadi, WiMAX jauh lebih efisien daripada WiFi yang hotspot-nya sangat kecil dan jangkauannya serba terbatas.


Berkat keunggulannya, WiMAX yang memanfaatkan pita frekuensi 2—11GHz (lisensi) dan 10—66GHz (nonlisensi) menjadi solusi ideal khususnya bagi negara-negara berkembang yang enggan membuat solusi berkabel yang mahal. Ia terbukti sangat berjasa sebagai jaringan komunikasi di Aceh yang dilanda musibah tsunami pada bulan Desember 2004 lalu. Waktu itu, ketika semua infrastruktur komunikasi yang ada luluh-lantak, akses broadband WiMAX lah yang digunakan untuk membantu membawa informasi dari dan ke Aceh.



Throughput Hingga 70Mbps


Kok bisa WiMAX demikian canggih? Jaringan ini memiliki dua bagian sistem, yakni base station atau menara yang konsepnya yang idem dengan BTS (base tranceiver station) ponsel, dan receiver.


Base station WiMAX mampu menjangkau wilayah yang sangat luas, lebih dari 48 km. Bandingkan dengan Wi-Fi yang kekuatan sinyalnya hanya sekitar 30 meter. Sedangkan receiver WiMAX atau antena penerimanya didesain berupa kotak kecil atau kartu PCMCIA yang dibuat built-in di dalam notebook.


Dalam prakteknya, ada dua jenis aplikasi WiMAX yakni fixed dan mobile. Fixed WiMAX adalah akses point-to-multipoint yang memungkinkan layanan broadband tersedia untuk konsumen perumahan dan bisnis. Sedangkan mobile WiMAX menawarkan mobilitas layaknya jaringan selular—kita bisa mengakses jaringan sembari berjalan atau berkendara—tapi dengan kecepatan pita lebar yang supercanggih.


Secara teori, jaringan ini bisa menghantar data dengan kecepatan hingga 70Mbps, dengan jangkauan lebih dari 48 km tadi—sangat jauh di atas koneksi tercepat Wi-Fi yang sekitar 54Mbps. Bahkan, jika 70Mbps tersebut dibagi ke beberapa lusin bisnis atau pengguna rumahan, WiMAX masih mampu menyediakan minimal throughput data yang sama dengan laju rata-rata transfer data via kabel modem.


Tapi harap diingat, sesuai dengan sifat alami semua komunikasi nirkabel, desain antena akan sangat mempengaruhi kinerja jaringan. Misalnya saja, antena yang diinstal secara eksternal (non-line-of-sight) akan menghasilkan daya jangkau yang lebih luas serta throughput data yang lebih baik dibandingkan antena internal (line-of-sight) seperti yang dipasang pada desktop atau notebook. Jadi jangan kecewa jika meski Anda cuma berada 2 km jauhnya dari base station WiMAX terdekat di wilayah perkotaan, laju data yang Anda peroleh hanya sekitar 10Mbps. Selain itu, gedung-gedung tinggi dan faktor cuaca juga bisa mempengaruhi jangkauan maksimum WiMAX.


Ada satu hal yang patut disayangkan. Berbagai keunggulan WiMAX justru menjadi alasan utama mengapa banyak pihak menolak memanfaatkan jaringan ini. Selain dianggap mengancam eksistensi penyedia layanan seperti DSL dan kabel modem, protokol WiMAX yang didesain untuk menjalankan beberapa metode transmisi data seperti VoIP (Voice over Internet Protocol) yang memungkinkan orang menelepon lokal atau interlokal bahkan internasional melalui koneksi internet broadband juga sudah pasti tidak disukai oleh para operator telepon tetap maupun selular. Jadi, tidak hanya konsumen sebagai pengguna yang butuh beradaptasi dengan teknologi canggih ini, tapi juga para pemain di industri telekomunikasi.


Kapan Indonesia Bisa Mencicipi WiMAX?


Menurut studi Alcatel-Lucent, meski saat ini pasar pengguna layanan broadband di Tanah Air hanya sekitar 0,2 persen saja dari total populasi penduduk, angka tersebut diprediksi akan naik menjadi 5 kali lipatnya pada tahun 2010 nanti. Pasalnya, meskipun tingkat penetrasinya masih sangat rendah, hampir 80 persen pengguna internet berminat memanfaatkan WiMAX. Apalagi Alcatel-Lucent juga memperkirakan harga modem mobile teknologi ini akan segera turun dari 200USD menjadi di bawah 100USD.


Jadi, kapan Indonesia bisa mencicipi WiMAX? Mungkin tidak lama lagi, karena pada bulan April 2007 lalu, Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar menyatakan bahwa Pemerintah berencana membangun jaringan yang berbasis 2,3GHz ini di wilayah pedesaan melalui program USO (Universal Service Obligation) atau layanan telekomunikasi pedesaan. Targetnya, bulan September tahun ini USO sudah mampu menjamah hingga 38 ribu desa dengan modal anggaran sekitar 1,2 triliun rupiah. Mudah-mudahan setelah sukses diaplikasikan di desa, WiMAX juga bakal mampir ke wilayah perkotaan.

Saatnya anda Go - Blog sekarang Juga

Nah sahabat-sahabat ternyata benar apa kata Mas Agus Heri Prasetyo seorang Blogger ternama di Indonesia saat menyampaikan materinya di Webschool Islamiyah Sayang bahwa ternyata Meng-edit itu Sangat Menyenangkan, kagak percaya....... coba aja.

Dulu saya sangat gak ngerti, BT,pusing dan bingung lihat Script/HTML tapi setelah saya belajar banyak dengan Blogger Agus ternyata menyenangkan juga ngedit Script tehnya..... Bahkan sekarang saya banyak belajar membuat dan mengedit Script, adanya ya di Blogger....

Bagi kawan-kawan yang ingin belajar banyak bagaimana membuat Blogger ..ikuti pelatihannya, untuk informasinya bisa masuk ke alamat http://asepmuhsin.blogspot.com atau hubungi aja orangnya ke 08156309231 (mahasiswa D3 TKJ Vedca Cianjur)
Nah....Makanya dalam kesempatan ini saya mengajak sahabat-sahabat untuk belajar banyak dengan Mas Agus Heri Prasetyo secara Online, untuk itu saya tampilkan materi-materi yang dibutuhkan untuk menciptakan Blog dan Friendster kamu jadi OK Punya.....dan saya sudah link-kan materinya dengan Blognya....

Sebelum Lihat Materinya sebaiknya anda harus punya e-mail dulu sok daftar Gmail atawa Yahoo Klik Aja deh.
Kalau sudah silahkan masuk untuk daftar jadi Blogger dalam 3 langkah anda sudah bisa langsung posting ke Web anda Klik Disini untuk masuk Blogger. Nah sekarang sok......ngawitan perindah deh tuh Blog kamu....selamat Ber-Edit Ria



Diklat Weblogs Bersama Edittag



Recent Readers